Informasi

Berita dan Informasi BKS-PPS

109 Tahun Sawit Indonesia

Hari Sawit Indonesia   Hari Sawit Indonesia diperingati setiap 18 November setiap tahunnya. tanggal ini ditetapkan berdasarkan adanya komersialisasi sawit sebagai komoditas penting di Indonesia yang dimulai sejak 18 November 1911. Penanaman sawit secara komersil pertama di Indonesia ada di Pulu Raja. Saat ini masuk dalam wilayah Kabupaten Asahan yang dimiliki PTPN IV yang dulunya disebut PNP/PTP VI. Pada saat bersamaan, tanaman sawit juga dikembangkan di Sungai Liput yang saat ini dipegang oleh perusahaan swasta yakni Socfindo. Jejak sejarah ini menempatkan Sumatera sebagai wilayah perintis perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Hingga kini kebun-kebun tersebut masih ada dan tumbuh produktif.   Pada tanggal 18 November 2020 yang lalu bertepatan dengan masih adanya pandemi, Peringatan Hari Sawit Indonesia tahun 2020 yang di motori oleh Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) diadakan secara daring melalui aplikasi Zoom. Acara tersebut bertemakan “Sawit Indonesia untuk Kejayaan Bangsa”.   Tentu hal tersebut didukung oleh kenyataan bahwa kelapa sawit telah berkontribusi besar bagi perekonomian Indonesia. Pada acara tersebut Ketua Umum DMSI Derom Bangun mengatakan dalam 8 tahun belakangan ini , selain industri Batu Bara, maka kontributor terbesar yang menopang perekonomian Indonesia adalah Sawit . Industri Sawit ( Perkebunan dan industri hilirnya) menyerap tenaga kerja yang sangat besar dan juga sebagai penyumbang devisa bagi negara yang terbesar , sehingga perlu dijaga eksistensinya.   Pada Tahun 2019 saja nilai ekspor kelapa sawit memberikan kontribusi sekitar 20,5 milyar dollar AS dan di tahun 2020 ini diperkirakan besaran nilai ekspor yang sama juga masih akan dapat diraih. Industri sawit dapat menjadi kebanggaan bagi kita semua, meskipun dalam bidang usaha berbisnis sawit, baik oleh para petani smallholders dan juga perusahaan keadaanya masih belum sepenuhnya kondusif.   Namun secara keseluruhan sektor kelapa sawit sangat optimis. Produktivitasnya yang mencapai 5 sampai 7 kali dari jenis minyak bijian yang lain akan selalu dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan penduduk dunia akan minyak nabati yang terus meningkat. Jenis-jenis produk yang dihasilkan dalam industri oleokimia pun terus berkembang dan akan masih berkembang lagi sesuai dengan hasil penelitian dan teknologi yang semakin maju. Tantangan mengenai isu lingkungan baik deforestasi begitupun isu pelanggaran HAM memang harus diatasi dan diperbaiki dengan pedoman SDG (Sustainable Development Goals) dari PBB dengan mensukseskan ISPO sebagai standar perkebunan sawit yang ada di Indonesia.

Hasilkan Bibit Unggul Dengan Okulasi

Pada masa awal karet diperkenalkan, ternyata masyarakat Indonesia pernah tidak tertarik karena  sudah menanam pohon penghasil getah yang lainnya, yaitu Ficus elastica atau karet kebo. Bahkan, perkebunan karet jenis Ficus elastic tertua di dunia ada di Jawa Barat. Karet (Hevea brasiliensis) adalah salah satu komoditas yang bisa kita banggakan. Indonesia bahkan pernah menjadi negara penghasil karet alam terbesar di Dunia. Meningkatnya permintaan karet  salah satunya karena berkembangnya industri otomotif. Sampai saat ini, karet jenis Hevea Brasiliensis, masih terus ditanam di Indonesia. Negara Indonesia menduduki peringkat kedua penghasil karet di Dunia. Indonesia memiliki jumlah produksi mencapai 2,175 juta metrik ton, di mana menjadi penyumbang 21 persen dari produksi karet alam dunia. Di samping itu, jumlah ladang perkebunan karet di negara ini juga sangat luas yang mencapai 3,5 juta hektare.  Namun petani karet di Indonesia saat ini masih ada yang menggunakan bibit karet cabutan, anakan liar, atau hasil semaian biji dari pohon karet alam yang dibudidayakan sebelumnya. Meskipun demikian, bibit karet unggul sebenarnya sudah dikenal luas oleh petani.Bibit karet unggul dihasilkan dengan teknik okulasi antara batang atas dengan batang bawah yang tumbuh dari biji-biji karet pilihan. Teknik perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya diantara melalui okulasi tanaman. Okulasi tanaman atau lebih dikenal dengan penempelan mata tunas merupakan teknik perbanyakan yang sudah banyak dilakukan oleh masyarakat karena dapat meningkatkan kualitas tanaman menjadi lebih baik. Berikut merupakan penjelasan mengenai okulasi. Okulasi merupakan salah satu teknik perbanyakan secara vegetatif buatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu tanaman melalui penempelan sepotong kulit pohon dengan mata tunas dari batang atas yang ditempelkan pada irisan kulit pohon lain dari batang bawah sehingga dapat tumbuh dan bersatu menjadi individu yang baru. Arti batang bagian bawah yang digunakan untuk okulasi diharuskan mempunyai sistem perakarannya yang baik, sedangkan batang bagian atas biasanya dipilih yang memiliki hasil tanaman yang memiliki kualitas baik.  Terdapat dua macam teknik okulasi yang baisa diterapkan yaitu teknik okulasi tradisional dan teknik okulasi hijau. Okulasi disebut juga sebagai salah satu teknik perbaikan kualitas tanaman secara vegetatif buatan. Sama seperti jenis perbanyakan vegetatif buatan lainnya, okulasi dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh bibit tanaman yang berkualitas baik. Jika dibandingkan dengan hasil tanaman melalui dari teknik perbanyakan cangkok dan stek, tanaman okulasi memiliki kualitas yang lebih baik dikarenakan okulasi dapat menggabungkan 2 sifat unggul dari masing-masing bagian tanaman asalnya yang berupa sifat unggul dari batang bawah seperti sistem perakaran yang kuat dan sifat unggul dari tanaman entres  yang dapat berupa hasil buah yang lebat. Teknik okulasi biasanya dilakukan dengan menggabungkan tanaman-tanaman yang masih dalam satu spesies. Okulasi yang dilakukan antar tanaman dengan spesies berbeda jarang dilakukan karena memiliki tingkat keberhasilannya sangat rendah karena perbedaan sifat fisiologis dari masing-masing spesies dapat menghambat penyatuan batang atas dan batang bawah. Adapun untuk kegunaan dalam okulasi ini, antara lain adalah  dapat menyebabkan proses perkembangbiakan menjadi lebih cepat karena faktor umur tanaman induk dan sifat induk yang unggul dan memiliki pertumbuhan yang cepat. Okulasi merupakan salah satu teknik perbanyakan vegetatif  yang dapat meningkatkan produktivitas tanaman karena didukung oleh bibit atau induk tanaman yang memiliki sifat unggul dan memiliki produksi tinggi. Hal tersebut yang mendorong peningkatan produktivitas dan mutu tanaman hasil okulasi sehingga teknik ini lebih menguntungkan. Hasil tanaman yang diperbanyak dengan okulasi memiliki sifat yang seragam. Hal ini dikarenakan okulasi merupakan perkembangbiakan secara vegetatif tanpa melalui proses peleburan dua gamet yang berarti satu induk tumbuhan dapat memperbanyak diri dan menghasilkan keturunan yang memiliki sifat identik dengan induknya. Hal tersebut yang menjadikan hasil tanamannya menjadi seragam.

Benih Unggul Kelapa Sawit Itu Penting

Seperti yang kita ketahui, salah satu faktor yang sangat penting dalam budidaya kelapa sawit adalah  penggunaan bibit unggul. Hasil produksi kelapa sawit yang berhasil adalah menghasilkan buah dengan kualitas dan kuantitas yang terjamin secara mutu. Benih unggul kelapa sawit merupakan Benih hasil persilangan antara tetua Dura (D) dan tetua Pisifera (P) terpilih hasil proses pemuliaan yang panjang dan terstruktur. Varietas tersebut telah dilepas oleh Kementerian Pertanian dan diproduksi oleh lembaga/instansi yang ditunjuk secara resmi oleh Pemerintah sesuai standar produksi benih kelapa sawit yang baik dan benar. Adanya benih kelapa sawit palsu menjadi permasalahan sendiri. Benih kelapa sawit ‘palsu’ (ilegitim) adalah benih kelapa sawit yang jenis persilangannya tidak sesuai dengan standar prosedur pemuliaan kelapa sawit. Benih ilegitim diproduksi dan diedarkan oleh lembaga/peroranganyang tidak memiliki izin produksi benih kelapa sawit dari Pemerintah (produsen liar). Benih kelapa sawit ilegitim tidak memenuhi persyaratan mutu genetis kelapa sawit mencakup asal bahan tanaman tidak jelas, varietas tidak dapat ditelusuri, dan tingkat kemurnian tenera tidak dapat dipertanggungjawabkan.   Benih unggul itu penting karena benih hasil persilangan terkontrol dari varietas yang telah dilepas memiliki tingkat produksi tandan buah segar (TBS) dan crude palm oil (CPO) yang tinggi. Dengan tingkat produksi yang tinggi, petani/pekebun memiliki jaminan atas pendapatan dari hasil kebun, perbaikan taraf hidup (livelihood improvement), dan keberlanjutan usaha perkebunan (sustainability). Produsen benih kelapa sawit umumnya telah menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001 sebagai upaya untuk memastikan bahwa mutu kecambah kelapa sawit yang dihasilkan telah memenuhi standar SNI 8211:2015. Pengawasan kemurnian benih di tingkat produsen sesuai dengan SNI 8211:2015 tentang benih kelapa sawit ditetapkan bahwa persyaratan mutu kecambah mencukup tiga hal: Mutu genetis: asal bahan tanaman, varietas, dan kemurnian; Mutu fisiologis: tingkat kesehatan benih; Mutu fisik: bobot biji, serta keragaan radikula dan plumula   Saat ini sejak 2019 terdapat 19 produsen benih kelapa sawit dengan 58 varietas DxP di Indonesia. Pastikan selalu gunakan benih unggul yang asli untuk hasil produksi yang terbaik.   Sumber: FGD Kemenko_Benih Kelapa Sawit_17 Juni 2020 PPKS - RPN

Adaptasi Kebiasaan Baru, Industri Karet semakin Optimis.

  Terjadinya pandemi COVID-19 telah memberikan dampak yang sangat besar bagi perekonomian dunia, termasuk kinerja komoditas karet. Di sisi lain, dampak pandemik COVID-19 juga menawarkan peluang untuk meningkatkan harga karet dengan meningkatkan penyerapan karet alam untuk memproduksi alat pelindung diri (APD) seperti sarung tangan, dan alat-alat kesehatan lainnya. Peluang ini dimanfaatkan oleh negara Malaysia yang merupakan produsen sarung tangan karet (rubber gloves) terbesar di dunia. Malaysia diprediksi akan meningkatkan pangsa pasar sarung tangan karet di pasar global dari 62% menjadi 65% di tahun 2020 ini. Di pasar domestik, Indonesia juga bisa memanfaatkan peluang tersebut dengan meningkatkan produksi sarung tangan karet dalam negeri untuk industri APD dalam negeri. Oleh karena itu, supply karet alam masih terus dibutuhkan oleh industri hilir karet. Selain industri kesehatan, karet juga berpeluang untuk ditingkatkan konsumsi domestiknya melalui program aspal karet. Pada tahun 2020, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah membuat kebijakan dengan menyiapkan anggaran Rp 100 miliar untuk membeli karet petani yang akan digunakan sebagai bahan baku aspal karet Apabila pemerintah Indonesia semakin mendorong banyaknya pembangunan infrastruktur menggunakan bahan baku karet alam, maka upaya untuk meningkatkan konsumsi karet domestik akan tercapai, dan pada akhirnya akan menaikkan harga karet di pasar global. Sehingga dengan melihat adanya peluang dalam pengembangan industri karet seperti yang dikutip dari Rubber Note (Kelti Sosial Ekonomi Pusat Penelitian Karet) terdapat beberapa hal untuk meningkatkan harga karet yang diterima oleh petani dapat dilakukan antara lain: Meningkatkan kualitas karet yang dihasilkan petani, yaitu dengan menghasilkan bokar bersih ataupun menghasilkan produk lateks pekat sebagai bahan baku barang jadi karet yang berbasis lateks pekat. Memperbaiki rantai pemasaran karet petani yang panjang dengan membentuk sistem pemasaran terorganisir melalui koperasi atau UPPB, sehingga pemasaran karet lebih efisien yang pada gilirannya akan meningkatkan bagian harga karet yang diterima oleh petani. Perumusan kebijakan proyek aspal karet nasional dengan melibatkan para pemangku kepentingan, antara lain petani/kelompok tani karet, asosiasi, gabungan pengusaha, kementerian terkait (PUPR), serta Pemerintah Kabupaten/Kota yang merupakan sentra perkebunan karet untuk memanfaatkan teknologi aspal karet dalam pemeliharaan dan pembangunan jalan kabupaten dan kota. Perumusan kebijakan mengenai skema pendanaan peremajaan karet rakyat.

Komoditi Unggulan Perkebunan Indonesia Mendunia

  Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang kaya akan aneka hasil perkebunan. Hal ini juga karena tingkat kesuburan tanah yang sangat tinggi sehingga cocok untuk ditanami beragam komoditas perkebunan. Hasil pertanian yang dimiliki Indonesia begitu melimpah. Keuntungan ini tentu menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk melakukan ekspor produk-produk pertaniannya ke mancanegara. Beberapa komoditi perkebunan merupakan produk unggulan yang menjadi sumber pendapatan negara dalam skala besar. Tidak salah jika sektor ini masih bisa bertahan dan mencatatkan pertumbuhan di tengah pandemi. Beberapa produk hasil perkebunan dari Indonesia telah diekspor ke berbagai negara di luar negeri. Indonesia memiliki lima komoditas unggulan di sektor perkebunan. Berdasarkan data statistik kementerian pertanian secara berurutan yakni kelapa sawit, karet, kelapa/kopra, kopi dan kakao. Produksi kelapa sawit terbesar di antara komoditas perkebunan, 12-15 kali lipat dibanding produksi empat komoditas lain. Kemudian secara berurutan disusul karet, kelapa, kopi dan kakao. Selama lima tahun terakhir, produksi kelapa sawit dan kopi konsisten meningkat, sedangkan kakao dan kelapa berfluktuasi. Komoditas karet, meski mengalami penurunan produksi, masih masuk dalam komoditas unggulan. Kemajuan ilmu pertanian dan teknologi yang beriringan semakin meningkatkan jumlah produksi hasil perkebunan. Produksi lima komoditas unggulan perkebunan Indonesia terus meningkat, hal ini juga berlaku pada nilai ekspornya. Namun, ekspor masih didominasi bahan baku. Nilai ekspor bahan baku lebih rendah dibandingkan dengan ekspor barang setengah jadi atau barang jadi karena tidak memiliki nilai tambah. Sektor perkebunan yang masih positif menjadi angin segar, meski juga diperlukan perbaikan sistem industrinya secara menyeluruh dan dilakukan secara struktural agar setiap produk pertanian komoditas dikelola terlebih dahulu sehingga bisa memberi nilai tambah. Hal ini perlu didorong hilirisasi industri sehingga muncul diversifikasi produk. Agar industri hilir untuk komoditas-komoditas perkebunan unggulan bisa berkembang, perlu diciptakan iklim investasi yang kondusif. Perlu adanya kerjasama antara perusahaan perkebunan dan perusahaan industri pengolahan dengan dukungan dari pemerintah yang berkesinambungan dalam membangun industri hilirisasi komoditas perkebunan. Hal ini dilakukan agar mengurangi ketergantungan kepada sektor komoditas (bahan baku). Melalui hilirisasi, para pelaku agribisnis juga akan mendapatkan nilai tambah dan jaminan pasar yang pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.        

Karet Komoditas Unggulan Penghasil Getah

  Dalam kehidupan manusia modern saat ini banyak peralatanā€peralatan yang menggunakan bahan yang sifatnya elastis tidak mudah pecah bila terjatuh dari suatu tempat. Karena itu Karet dikenal karena sifat elastis dan isolator listrik. Komoditi banyak diguanakan pada produk dan peralatan di seluruh dunia (mulai dari produk-produk industri sampai rumah tangga). Ada dua tipe karet yang dikenal luas, karet alam dan karet sintetis. Karet alam dibuat dari getah (lateks) dari pohon karet, sementara tipe sintetis dibuat dari minyak mentah. Kedua tipe ini dapat saling menggantikan dan karenanya mempengaruhi permintaan masing-masing komoditi. Sejarah karet bermula ketika Christopher Columbus menemukan benua Amerika pada 1476. saat itu, Columbus tercengang melihat orang-orang Indian bermain bola dengan menggunakan suatu bahan yang dapat memantul bila dijatuhkan ketanah. Bola tersebut terbuat dari campuran akar, kayu, dan rumput yang dicampur dengan suatu bahan (lateks) kemudian dipanaskan diatas unggun dan dibulatkan seperti bola. Pada 1731, para ilmuwan mulai tertarik untuk menyelidiki bahan tersebut. seorang ahli dari Perancis bernama Fresnau melaporkan bahwa banyak tanaman yang dapat menghasilkan lateks atau karet, diantaranya dari jenis Havea Brasilienss yang tumbuh di hutan Amazon di Brazil. Pada tahun 1770 seorang ahli kimia dari Inggris melaporkan bahwa karet dapat digunakan untuk menghapus tulisan dari pensil. sejak 1775 karet mulai digunakan sebagai bahan penghapus tulisan pensil, dan jadilah karet itu di Inggris disebut dengan nama Rubber (dari kata to rub, yg artinya menghapus). Pada dasarnya, nama ilmiah yang diberikan untuk benda yang elastis (menyerupai karet) ialah elastomer, tetapi sebutan rubber-lah lebih populer di kalangan masyarakat awam. Barang-barang karet yang diproduksi waktu itu selalu menjadi kaku di musim dingin dan lengket dimusim panas, sampai seorang yang bernama Charles Goodyear yang melakukan penelitian pada 1838 menemukan bahwa, dengan dicampurkannya belerang dan dipanaskan maka karet tersebut menjadi elastis dan tidak terpengaruh lagi oleh cuaca, proses ini disebut dengan vulkanisasi. Oleh karena penemuan itu sebagian besar ilmuwan sepakat untuk menetapkan Charles Goodyear sebagai penemu proses vulkanisasi. Penemuan besar proses vulkanisasi ini akhirnya dapat disebut sebagai awal dari perkembangan industri karet. Dibelahan dunia lain pada masa awal karet diperkenalkan, ternyata masyarakat Indonesia pernah tidak tertarik karena  sudah menanam pohon penghasil getah yang lainnya, yaitu Ficus elastica atau karet kebo. Bahkan, perkebunan karet jenis Ficus elastic tertua di dunia ada di Jawa Barat. Namun Karet jenis Hevea brasiliensis memiliki getah yang lebih banyak. Dan sekarang salah satu komoditas yang bisa kita banggakan. Indonesia bahkan pernah menjadi negara penghasil karet alam terbesar di Dunia. Meningkatnya permintaan karet  salah satunya karena berkembangnya industri otomotif. Sampai saat ini, karet jenis Hevea Brasiliensis, masih terus ditanam di Indonesia. Negara Indonesia menduduki peringkat kedua penghasil karet di Dunia. Indonesia memiliki jumlah produksi mencapai 2,175 juta metrik ton, di mana menjadi penyumbang 21 persen dari produksi karet alam dunia. Disamping itu, jumlah lahan perkebunan karet di negara ini juga sangat luas yang mencapai 3,5 juta hektare.  Sebagai produsen karet terbesar kedua di dunia, jumlah suplai karet Indonesia penting untuk pasar global. Sejak tahun 1980an, industri karet Indonesia telah mengalami pertumbuhan produksi yang stabil. Kebanyakan hasil produksi karet negara ini kira-kira 80 persen diproduksi oleh para petani kecil.

Bantuan Program CSR dari PTPN 3 kepada Museum Perkebunan Indonesia

PT Perkebunan Nusantara III (Persero) menyerahkan Corporate Social Resposibility (CSR) kepada  Museum Perkebunan Indonesia  (Musperin) berupa dana sebesar 545.874.946 berlangsung pada hari Selasa 8 September 2020 di Gedung BKSPPS (Badan Kerjasama Perusahaan Perkebunan Sumatera) lantai 2 yang terletak di simpang Jalan Pemuda dan jalan Palang Merah, Medan. Bantuan diserahkan oleh SEVP Bisnis Support PTPN III Suhendri kepada Direktur Eksekutif Museum Perkebunan Indonesia Dra Sri Hartini M.Si disaksikan secara virtual oleh Pendiri dan Ketua Pembina Yayasan Museum Perkebunan Indonesia Soedjai Kartasasmita, Direktur Holding PTPN Dr. Ir. Mohammad Abdul Ghani, Prof DR Bungaran Saragih (Menteri Pertanian tah 2000-2004), Rusman Eriawan (Wakil Menteri Pertanian 2011-2014), Ir Gamal Naser (Dirjen Perkebunan 2010-2016), Rohan F Mochtar, Sekjen Asosiasi Museum Indonesia Sigit Gunardjo, Ir. Purwadi dari IInstiper Yogyakarta, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Medan serta didampingi oleh Direktur PPKS  Ir Edwin Lubis, Dr Hasril Hasan Siregar, Ir Andi Soewignyo (GM Socfindo), Fransiska Ginting (Socfindo) dan Direktur Eksekutif Beranda warisan Sumatera Sri Shindi Indira yang hadir di gedung BKS PPS. Acara penyerahan dana CSR dari PTPN III dirancang dengan kombinasi off line dan on line. Berbagai elemen juga hadir dalam acara ini, baik dari kalangan media, akademisi, penggiat pelestarian Cagar Budaya. Dr Hasril Hasan Siregar sebagai Pembina Yayasan Musperin menyampaikan bahwa dana CSR dari PTPN 3 akan digunakan untuk merenovasi Museum Perkebunan Indonesia 2 yang berada di lantai 1 Gedung BKSPPS, diantaranya untuk menyempurnakan tata pameran tetapnya,  membuat fasilitas pendukung berupa café yang sekaligus sebagai ruang serba guna. Dana tersebut juga untuk digunakan untuk perawatan gedung, salah satunya penanggulangan rayap dan perbaikan elemen interior yang sudah rusak, sebab Gedung BKSPPS ini usianya sudah lebih dari 100 tahun Direktur Holding PTPN Dr Ir. M. Abdul Ghani  menyampaikan  bahwa Gedung BKSPPS merupakan asset perkebunan dan beliau  memberikan dukungan sepenuhnya untuk pengembangan Museum Perkebunan Indonesia II yang diinisiasi oleh Soedjai Kartasasmita dan dikelola secara baik selama ini. Beliau berharap kepada Perusahaan Perkebunan lainnya untuk terus membantu perkembangan Musperin dan situs cagar budaya lainnya di kota Medan. Dalam sambutannya SEVP Bisnis Suport PTPN III menyampaikan agar supaya bantuan CSR PTPN III dapat dimanfaatkan secara maksimal dan PTPN III berkomitmen untuk mendukung perkembangan Musperin selanjutnya. Soedjai Kartasasmita selaku pendiri dan Ketua Pembina Musperin dalam kesempatan ini menyampaikan ucapan terimakasih kepada Direktur Holding PTPN III yang telah membantu melaui dana CSR. Disampaikan bahwa tinggalan yang amat penting  dari  BKSPPS adalah arsip Dakstiloskopi yang menangani arsip pekerja kebun di Sumatera dan mungkin satu satunya arsip sejenis di Indonesia. Diharapkan arsip arsip tersebut dapat dilestarikan dengan baik dan diusulkan Ke UNESCO sebagai Memory of The Word Register.   Ketua Asosiasi Museum Indonesia yang diwakili oleh Sekjen Sigit Gunardj o, memberikan apresiasi yang tinggi kepada PTPN III yang telah memberikan bantuan dalam pengembangan Musperin 2. Beliau menambahkan program ini dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan museum lainnya di Indonesia. Kemudian yang terakhir, Direktur Eksekutif Beranda Warisan Sumatra (BWS) memberikan sambutan dan apresiasi atas bantuan dan CSR yang dikucurkan oleh PTPN III untuk pengembangan Musperin 2. Beliau menyatakan siap bekerjsama dan membantu dalam proses renovasi dan dokumentasi gedung BKS PPS yang merupakan bangunan cagar budaya berusia lebih dari 100 tahun. Kemudian beliau juga menekankan bahwa pelaksanaan renovasi ini harus mengikuti langkah dan prosedur yang ditetapkan oleh Undang-undang No. 11 tahun 2010 tentang Cagar budaya. Semoga dengan pengembangn Musperin 2 kiprahnya semakin meningkat dalam pelayanan kepada masyarakat di kota Medan maupun di Indonesia terutama bagi kelompok muda, sehingga tugas meneruskan nilai-nilai sejarah, budaya bangsa dapat dilakukan.

Persimpangan Jalan Industri Perkebunan Tembakau Deli

  Di abad ke-19, tembakau asal Deli (Kota Medan) menjadi komoditas dagang paling berharga yang dikuasai Belanda. Tembakau Deli adalah tembakau dengan kualitas sangat bagus, karenanya tembakau Deli disebut sebagai komoditas ekspor utama yang harganya tinggi. Nilai jualnya yang tinggi membuat uang dari perdagangan tembakau saat itu digunakan untuk menghidupkan Kota Medan yang awalnya sepi. Sehingga sekitar tahun 1890-an, terjadi booming Industri Perkebunan Tembakau yang dikelola oleh pemodal asing. Digunakan sebagai pembungkus cerutu, daun tembakau asal Sumatra dinilai setara dengan tembakau Havana dari Cuba, rasanya disuka oleh banyak orang di Benua Eropa. Dulu ketika nama tembakau berjaya, orang-orang banyak yang datang ke Deli untuk mengadu nasib. Beberapa dari mereka bahkan berhasil menjadi pemilik kebun atau pedagang yang sukses di tanah Deli. Sehingga Kota Medan saat itu dikenal sebagai “het dollar land” (Tanah Uang). Namun saat ini, nasib tembakau Deli tengah berada diujung tanduk. Padahal harganya bisa sampai 40-50 euro/kg. Sayangnya masalah ketersediaan lahan dan biaya yang tinggi masih sulit diatasi sehingga Perusahaan Perkebunan Tembakau Deli selalu merugi. Selain itu, para pekerjanya pun mulai banyak yang meninggalkan perkebunan, kebanyakan mereka telah beralih profesi. Ketua Umum BKS-PPS Bapak Soedjai Kartasasmita bercerita dari tahun 2003 sampai 2010 selalu dimintai saran oleh pihak Indonesia maupun Jerman. Setiap tahun diundang ke Bremen untuk hadir dalam lelang Internasional, bahkan sampai bertemu dengan Agus Martowardoyo Menteri Keuangan dan Menteri BUMN Bapak Dahlan Iskan. Sayangnya produksi tembakau Deli tiap tahun makin menyusut padahal dilain sisi permintaan dari pabrik-pabrik cerutu di Eropa tetap tinggi. Beliau juga mengungkapkan bahwa Ia beberapa kali diminta tampil di televisi Jerman. Sampai ikut memberikan jaminan pada Bremer Landes Bank supaya ada kredit yang bisa diglontorkan untuk Perusahaan Perkebunan Tembakau Deli. Menurutnya bisnis cerutu diramalkan akan bertahan sampai 100 tahun lagi. Eropa sudah menutup pasokan Tembakau Deli, kecuali Jerman. Itupun hanya antara 40-50 ha perkebunan Tembakau Deli. Begitupun Bapak Soedjai terus memperjuangkan eksistensi Tembakau Deli, meskipun beliau bukan penghisap cerutu. Hal itu dilakukan karena cintanya pada kekayaan alam Indonesia. Juga karena ada pesan dari Almarhum Sumadi Wiradikarta (pakar tembakau Deli) sebelum beliau meninggal di RSPP mengatakan “Kang, perjuangkan terus ya tembakau Deli!” Pada tahun 2010 dalam RUPS di Bremen diputuskan untuk menghentikan lelang tanpa ada penjelasan tentang apa yang harus dilakukan dengan gedung balai lelang . Gedung sebesar gedung A Kemtan sekarang oleh pemerintah Jerman dijadikan gedung heritage.Lelang tembakau di Bremen itu urainya berkat perjuangan Prof. Ghautama, Prof Mochtar Kusumaatmadja dan Bapak Suyono Martowardojo . Sementara itu para pabrikan cerutu mencari alternatif seperti Mexico Sumatera dan Brazil Sumatera, sekarang tentu ditambah lagi dengan florida Sumatera. Florida Sumatra adalah varietas yang sangat tua yang secara historis tumbuh dibawah naungan dan digunakan untuk membuat daun pembungkus cerutu berkualitas tinggi. Tanaman ini cepat matang dan tumbuh setinggi empat hingga enam kaki. Selamat tiggal tembakau Deli dan selamat datang tembakau Florida Sumatera. “Berita  ini memprihatinkan, tembakau Deli asal Sumut hilang dari pasar lalu muncul tembakau Florida Sumatera yang juga dipakai sebagai daun pembungkus cerutu.” kata Soedjai Kartasasmita Tokoh Perkebunan Indonesia yang sudah berusia 94 tahun di salah satu tabloid pertanian. Demikianlah perjalanan panjang salah satu komoditas utama yang berjasa terhadap perekonomian dan perkembangan Khususnya Kota Medan dan Sekitarnya. Dimana tembakau Deli sudah sangat melekat dengan Identitas Sumatera Utara yang bahkan ada pada Logo Lembaga-lembaga seperti Klub Sepak Bola, Universitas dan Pemerintahan di Provinsi Sumatera Utara. Tembakau Deli telah menjadi bagian dari masyarakat Sumatera Utara.