Tingkatkan Produktivitas Sawit Dimasa Depan Dengan Replanting

26 August 2021 (2 years ago) 1085 Viewers

 

Dalam beberapa tahun terakhir penggunaan minyak nabati terutama sawit semakin masif, tidak hanya untuk pangan tetapi juga oleokimia dan biofuel. harganya pun saat ini sedang baik sehingga banyak negara yang mulai membuka diri untuk melakukan budidaya kelapa sawit di negaranya.

Seperti yang kita ketahui bersama tanaman kelapa sawit memiliki siklus yang secara ekonomis bisa sampai berumur 25 tahun, banyak perusahaan yang melakukan replanting ketika mencapai umur tersebut dan juga ada yang masih mempertahankannya karena dianggap masih menguntungkan sambil merencanakan replanting. Emang apasih untungnya replanting ?

Perlu langkah konkret dalam menyikapi hal ini, salah satunya adalah melakukan replanting pada kebun sawit yang sudah mencapai waktunya untuk memperpanjang umur bisnis kelapa sawit. Apalagi karena momentum saat ini tepat karena pemerintah juga sedang melaksanakan peremajaan sawit rakyat dalam rangka menambah produktivitas kebun sawit milik rakyat dengan bahan tanam unggul & mendukung rakyat untuk mengembangkan usaha di bidang sawit.

Selain itu dimasa pandemi yang belum usai, replanting bisa menjadi program pemulihan ekonomi nasional karena dianggap cara ini dapat menyerap tenaga kerja.

Semoga dengan replanting tanaman yang sudah memasuki masanya dapat meningkatkan produktivitas, daya saing dan eksistensi sawit Indonesia dimasa depan.

Bersama Mengukuhkan Perkebunan Berkelanjutan

Informasi Lainnya


Masih Banyak Yang Belum Tahu, Minyak Makan Merah Lebih Kaya Manfaat

Warna merah terjadi karena saat proses penyulingan minyak sawit mentah (CPO), tidak dilanjutkan dengan proses-proses pembuatan minyak goreng pada umumnya. Yakni, tidak sampai pada tahap bleaching atau pemucatan dan deodorisasi. Bagi sebagian orang awam, produk minyak makan merah kurang dikenal. Bahkan, bagi kalangan ibu rumah tangga, produk minyak makan merah bukanlah pilihan utama. Meski hasil olahan kelapa sawit itu sejatinya sudah lama beredar di tanah air, nyatanya masih saja kurang popular dan kalah peminat dari versi lain dari minyak kelapa sawit yang lain, yakni minyak sawit refined, bleached, and deodorized (RBD). Produk jenis tersebut, banyak dijual di supermarket, karena hambar, tidak berbau, dan berwarna kuning muda. Gaung minyak makan murah mengemuka setelah Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Pabrik Minyak Makan Merah Pagar Merbau di Kawasan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PTPN II, di Desa Pagar Merbau II, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra Utara, Kamis (14/3/2024). Fasilitas tersebut diklaim mampu memproduksi 10 ton minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) dan 7 ton minyak makan merah setiap hari. Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia memiliki 15,3 juta hektare kebun kelapa sawit. Sekitar 40,5 persen atau 6,2 juta hektare milik petani. Maka dari itu, dia berharap, kehadiran pabrik percontohan ini dapat memberikan nilai tambah signifikan bagi petani sawit. "Kita ingin nilai tambah itu ada di dalam negeri. Kita bangun pabrik minyak makan merah ini dan kita harapkan ini dapat memberikan nilai tambah bagi para petani sawit, terutama yang sudah dalam bentuk koperasi. Jadi, harga TBS (Tandan Buah Segar) tidak naik," ucap Presiden. Beroperasinya pabrik Pagar Merbau merupakan bagian dari upaya hilirisasi yang gencar dilakukan di tanah air. Yakni, proses peningkatan nilai tambah komoditas melalui pengolahan menjadi produk jadi. Karena itu, Presiden dalam kesempatan itu, mengajak masyarakat untuk mengonsumsi minyak makan merah dari pabrik tersebut. Tujuannya adalah sebagai langkah mendukung pemasaran produk local dan sekaligus menonsumsi produk berkelanjutan.   Warna Merah Minyak merah, merujuk Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia nomor 5 tahun 2023 tentang Tata Kelola Minyak Makan Merah Berbasis Koperasi, merupakan fraksinasi minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil atau CPO) yang digunakan sebagai minyak goreng, bahan baku pangan, ditambahkan pada pangan, dikonsumsi langsung sebagai tambahan asupan zat gizi, atau sebagai fortifikan minyak goreng sawit dan bahan baku nutrasetikal. Minyak sawit merah dibuat dari buah pohon kelapa sawit (Elaeis guineensis). Berasal dari Afrika Barat, pohon ini tumbuh di banyak negara tropis termasuk Indonesia dan Malaysia. Dalam keadaan belum diolah, minyak sawit berwarna merah tua karena mengandung beta karoten, pigmen oranye-merah yang memberi warna khas pada wortel. Sebutan minyak makan merah, itu merujuk dari warna minyak yang kemerahan (terang dan mencolok). Aromanya juga kuat. Kenapa merah? Merujuk rilis Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) melalui tayangan video memasak menggunakan minyak makan merah pada akun Youtube PPKS, warna merah terjadi terkait dengan proses produksi. Saat proses penyulingan minyak sawit mentah (CPO), tidak dilanjutkan dengan proses-proses pembuatan minyak goreng pada umumnya. Yakni, tidak sampai pada tahap bleaching atau pemucatan dan deodorisasi. Saat ini, minyak sawit merah mungkin bukanlah pilihan pertama bagi kebanyakan orang. Warna, rasa dan bau yang menyengat, bisa jadi alasan tidak banyak orang mengonsumsinya. Setidaknya, butuh waktu bagi konsumen untuk membiasakan diri. Lagi pula, produk ini memiliki sejumlah manfaat.   Manfaat Minyak Sawit Mengutip webmd.com, situs https://www.astra-agro.co.id/, memaparkan bahwa proses produksi minyak sawit merah yang lebih sederhana, menghilangkan lebih sedikit nutrisi yang terkadung dalam biji maupun kulit sawit. Hal ini menjadikan minyak sawit merah sebagai alternatif yang berpotensi lebih sehat daripada minyak sawit standar. Sejumlah penelitian atas produk ini, berhasil mengindentifikasi pengaruh positif dan potensi risikonya bagi kesehatan konsumen. Minyak sawit merah mengandung 50% asam lemak jenuh, 40% asam lemak tak jenuh, dan 10% asam lemak tak jenuh ganda. Menurut USDA, satu sendok makan (14 gram) minyak sawit merah mengandung 126 kalori, dilansir dari organicfacts.net. Minyak sawit merah juga merupakan salah satu sumber karoten alami terkaya, seperti alfa-karoten, beta-karoten, dan likopen. Beta karoten adalah prekursor vitamin A dan minyak dianggap sebagai sumber vitamin ini. Minyak sawit juga kaya akan sterol dan vitamin E, yang menjadi salah satu alasannya digunakan dalam produk perawatan kulit. Minyak kelapa sawit murni memperoleh banyak minat dari konsumen internasional pada tahun 2013 setelah Dr. Oz, seorang ahli bedah jantung yang beralih menjadi tokoh televisi, mengklaim bahwa minyak tersebut adalah salah satu minyak paling bergizi yang pernah ada. Dipaparkan pula, kandungan antioksidan karotenoid dan tocotrienol membantu memberikan keunggulan yang signifikan atas minyak kelapa.   Manfaat bagi Kesehatan Minyak sawit merah merupakan sumber nutrisi dan antioksidan yang baik, tetapi faktor-faktor seperti kandungan lemak dan kolesterol dapat menimbulkan komplikasi bagi sebagian orang. Namun penelitian telah menemukan beberapa manfaat kesehatan potensial dari mengonsumsi minyak sawit merah, yaitu dapat meningkatkan kesehatan jantung. Diketahui, minyak sawit merah dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi kesehatan jantung. Efek antioksidan dari vitamin E dan karotenoid dalam minyak sawit merah diketahui mampu membantu mencegah aterosklerosis, atau penyempitan pembuluh darah. Lebih banyak penelitian perlu dilakukan untuk mengonfirmasi efek ini, tetapi penelitian saat ini cukup menjanjikan. Minyak itu juga dapat meningkatkan kesehatan otak. Sebab seperti halnya kesehatan jantung, minyak sawit merah juga menawarkan manfaat bagi otak. Vitamin E dalam minyak sawit merah diketahui dapat membantu mengurangi atau menghentikan perkembangan demensia dan penyakit Alzheimer akibat lesi pada otak. Ini karena vitamin E melindungi otak dari radikal bebas yang dapat merusak neuron. Tak hanya itu, minyak sawit merah juga mendukung kesehatan mata. Di mana studi menunjukkan, cukup minyak dalam makanan dapat membantu Anda menyerap vitamin A dan vitamin larut lemak lainnya dengan lebih efektif. Jika Anda memiliki cystic fibrosis atau kondisi lain yang membuat sulit menyerap lemak, menambahkan minyak sawit merah ke dalam makanan dapat secara signifikan meningkatkan kadar vitamin A. Vitamin ini juga penting untuk kesehatan mata, jadi minyak sawit ini juga dapat membantu mengurangi risiko masalah penglihatan. Meski banyak kandungan yang bermanfaat, patut pula dipertimbangkan risiko penggunaan minyak sawit merah dalam masakan. Sebab, minyak ini dapat meningkatkan kadar kolesterol. Jadi meski vitamin E dalam minyak sawit merah dapat meningkatkan kesehatan jantung, aspek lain dari minyak kelapa sawit ini juga dapat menyebabkan masalah jantung. Dibandingkan dengan minyak nabati cair lainnya, minyak sawit merah lebih buruk dalam menurunkan kolesterol, dan bahkan dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL “buruk”. Minyak jenis ini juga memiliki kandungan lemak jenuhnya yang tinggi dibandingkan dengan minyak lainnya. Minyak zaitun, yang sering disebut-sebut mengandung lemak sehat, memiliki jumlah lemak jenuhnya kurang dari setengah jika dibandingkan dengan minyak sawit merah. Lemak jenuh dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit, membuat minyak sawit merah dirugikan dibanding dengan minyak nabati lainnya.   Sumber: Indonesia.go.id

Imajinasikan Sebuah Masa Depan Tanpa Bahan Bakar Fosil

Seandainya dunia tanpa lagi tergantung pada bahan bakar fosil, pertanyaan tentang apa yang akan menjadi penggantinya pasti akan mengemuka. Bagaimana kita akan menyalakan mesin kendaraan? Bagaimana proses memasak makanan sehari-hari kita akan berubah? Dan apa yang akan menjaga pembangkit listrik dan industri beroperasi dengan lancar? Jawabannya adalah biofuel - sumber energi alternatif terbarukan yang berasal dari berbagai jenis biomassa. Apa Itu Biofuel? Biofuel, secara sederhana, adalah bahan bakar yang dihasilkan dari biomassa, yang dapat berupa bahan organik seperti tumbuhan dan hewan. Tiap jenis biofuel diproduksi dengan metode yang berbeda. Contohnya, etanol dihasilkan melalui fermentasi jagung atau tebu, sementara biodiesel diproduksi dengan mengolah lemak hewan atau tumbuhan dengan metanol. Minyak kelapa sawit mentah, misalnya, melalui proses transesterifikasi, di mana senyawa kimia bereaksi dengan alkohol seperti metanol atau etanol untuk menghasilkan biodiesel. Bagaimana Biofuel Diproduksi? Ada dua jenis utama bahan baku untuk biofuel: yang bisa dikonsumsi dan yang tidak bisa dikonsumsi. Produk-produk makanan manusia seperti gula, pati, atau minyak nabati dapat dijadikan biofuel melalui metode konvensional seperti transesterifikasi. Namun, biofuel juga bisa dihasilkan dari tanaman non-pangan, limbah pertanian, dan residu yang tidak dapat dikonsumsi manusia, dengan menggunakan teknologi maju seperti hydrocracking. Pada proses ini, bahan baku dipecah dengan hidrogen untuk menghasilkan biofuel. Hal menarik lainnya adalah minyak kelapa sawit dapat digunakan untuk menghasilkan biofuel baik melalui metode konvensional maupun lanjutan, tergantung pada keadaannya. Di Mana Biofuel Dapat Digunakan? Biofuel sering dianggap sebagai alternatif untuk bahan bakar konvensional dalam menggerakkan kendaraan. Namun, sebenarnya, biofuel dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan energi manusia, termasuk dalam: Transportasi: Mobil, bus, sepeda motor, kereta api, pesawat terbang, dan kapal laut. Pembangkit Listrik: Peralatan listrik. Pemanas: Kompor dan peralatan memasak lainnya. Apakah Biofuel Merupakan Alternatif Energi yang Tepat? Dunia telah menyaksikan dampak negatif dari pemakaian berlebihan bahan bakar fosil, seperti mencairnya es di kutub, kenaikan suhu global, dan meningkatnya kejadian bencana alam. Konsumsi bahan bakar fosil juga memperparah pemanasan global dengan melepaskan gas rumah kaca ke atmosfer. Menurut Departemen Energi Amerika Serikat, biofuel seperti etanol dapat menghasilkan hingga 48% lebih sedikit karbon dioksida daripada bensin konvensional, sementara biodiesel mengeluarkan seperempat dari jumlah karbon dioksida yang dikeluarkan oleh diesel konvensional. Ini menjadikan biofuel sebagai pilihan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Berbeda dengan sumber energi lain yang tidak dapat diperbaharui, biofuel dapat diproduksi secara berkelanjutan dengan menanam lebih banyak tanaman sebagai bahan bakunya. Selain itu, para ilmuwan telah menunjukkan peningkatan produktivitas tanaman nabati yang dapat mengatasi beberapa masalah deforestasi yang terkait dengan produksi biofuel. Oleh karena itu, minyak kelapa sawit, yang memiliki hasil panen tertinggi di antara tanaman nabati lainnya, dianggap sebagai bahan bakar biodiesel yang paling ekonomis. Siklus hidup pohon kelapa sawit yang mencapai 30 tahun juga berarti nilai penyerapan karbon yang tinggi, membantu mengurangi jumlah karbon dioksida dalam atmosfer. Di masa depan, saat bahan bakar fosil mungkin tak lagi tersedia, biofuel dapat menjadi sumber energi alternatif yang aman, terbarukan, dan berkelanjutan.   Sumber: https://www.smart-tbk.com/biofuel-sumber-energi-alternatif/

Logo HUT Ke-76 RI: Link Download, Pedoman Penggunaan, hingga Filosofi

Pemerintah telah mengumumkan logo dan tema peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-76 Republik Indonesia (RI). Logo dan tema HUT RI itu diunggah oleh situs resmi Kementerian Sekretariat Negara, 17 Juni 2021. Melalui surat Menteri Sekretaris Negara Nomor B-446/M/S/TU.00.04/06/2021, Mensesneg Pratikno menyampaikan logo dan tema HUT RI itu ke seluruh jajaran pemerintah. Di antaranya kepada pimpinan lembaga, menteri, gubernur Bank Indonesia, jaksa agung, panglima TNI, kapolri, para pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian, para pimpinan lembaga nonstruktural, para gubernur, bupati, hingga wali kota di seluruh Indonesia. Nah bagi sobat planters yang membutuhkannya klik disini Di link tersebut terdapat logo, elemen grafis, font, template, beserta karya fotografi untuk melengkapi desain. Terdapat beberapa format logo yang tersedia, yakni AI, EPS, PDF, PNG, dan JPEG. Selain itu ada juga pedoman untuk menggunakan logo HUT ke-76 RI lengkap beserta contoh penerapannya, sehingga memudahkan para desainer dalam menggunakan logo tersebut.  

Satu-satunya Negara Asia di 5 Besar Produsen Kakao

Pantai Gading adalah negara  penghasil biji kakao terbesar di dunia, yang mampu memproduksi lebih dari 2 juta ton. Bahkan, masyarakat Pantai Gading mengandalkan ekspor kakao untuk 40% dari pendapatan ekspor mereka, yang berarti perekonomian nasional mereka sangat bergantung pada harga kakao. Negara ini terletak di kawasan tropis Afrika Barat, dan berpenduduk lebih dari 26 juta, dimana diperkirakan enam juta bekerja di produksi kakao. Tetangga Pantai Gading di sebelah timur, Republik Ghana, adalah pengekspor kakao terbesar kedua. Produksi kakao negara menyumbang 30% dari pendapatan ekspornya. Sekitar 800.000 petani Ghana terlibat langsung dalam budidaya kakao. Indonesia merupakan satu-satunya negara dari lima besar negara penghasil kakao yang tidak berada di Afrika, melainkan berasal dari Asia tenggara. Budidaya kakao di Indonesia adalah industri yang relatif baru. Kakao merupakan salah satu komoditi hasil perkebunan yang mempunyai peran cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia. Indonesia juga merupakan negara produsen dan eksportir kakao terbesa ketiga dunia setelah Ghana dan Pantai Gading. Seperti yang dikutip dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Publikasi Statistik Kakao 2019, sebagian besar perkebunan kakao masih diusahakan oleh perkebunan rakyat yang mencapai 98,85 % dari total luasan areal perkebunan kakao di Indonesia. Sementara untuk 5 besar Provinsi produsen kakao di tahun 2019*, empat diantaranya berasal dari Pulau Sulawesi. Pada tahun 2019* Provinsi Sulawesi Tenggara diperkirakan menjadi produsen biji kakao terbesar Indonesia dengan produksi sekitar 137,74 ribu ton atau 17,79 persen dari total produksi Indonesia. Produksi perkebunan kakao di Indonesia menurut provinsi tahun 2019*. Kemudian diikuti secara berurut oleh Provinsi Sulawesi tengah (16%), Sulawesi Selatan (15%), Sulawesi Barat (9%) dan perwakilan Sumatera oleh Provinsi Sumatera Barat 8%. sisanya 33% terebar dari Provinsi Lainnya Kecuali Provinsi DKI Jakarta. Sementara jika dilihat dari produktivitas kilogram per hektar nya di tahun 2019*, perkebunan kakao 3 diantaranya adalah dari Sumatera. Secara berurut 5 provinsi dengan produktivitas di tahun 2019 adalah Sumatera Utara (978 kg/ha), Kalimantan Tengah (909 kg/ha), Lampung (889 kg/ha), Sumatera Barat (825 kg/ha) dan Gorontalo (800 kg/ha). Berkaca dari hal tersebut Sumatera sangat berpeluang dalam mengembangkan perkebunan Kakao, apalagi potensi komoditas ini masih sangat besar mengingat tren konsumsi ketiganya tetap menunjukkan peningkatan di masa pandemi. Disisi lain seperti yang dikutip dari kompas.com, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong peningkatan ekspor produk kopi, teh, dan kakao ke Inggris. Ini sekaligus memanfaatkan peluang usai begara tersebut resmi keluar dari Uni Eropa atau Brexit. Meski demikian, peluang itu dibarengi tantangan yang perlu dihadapi pelaku usaha di Indonesia untuk bisa mengekspor produknya dan terus melakukan improvement kualitas produknya.   Sumber: Badan Pusat Statistik. (2020). Statistik Kakao Indonesia 2019 www.kompas.com www.worldatlas.com www.pertanian.go.id