Peluang Terbuka Bagi CPO Indonesia Akibat Konflik di Eropa.

05 April 2022 (9 months ago) 243 Viewers

 

Indonesia perlu segera mengambil langkah-langkah untuk memanfaatkan peluang yang terbuka untuk CPO sebagai akibat perang Ukraine. Berikut penjelasannya :

Pertama timbulnya supply gap dalam pasar minyak nabati dunia karena tidak ada ekspor minyak Sun Flower lagi dari Ukraina yg selama ini mempunyai pangsa pasar 30%. Minyak sawit dianggap bisa membantu mengisi kekosongan yang di timbulkan oleh kejadian ini di pasaran minyak nabati dunia.

Satu-satunya harapan dewasa ini adalah minyak sawit yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Dalam kaitan ini perlu disampaikan bahwa kampanye anti minyak sawit mulai mengendur sehingga beberapa super market terkenal mulai menjual produk-produk dari minyak sawit.

Kedua bioenergy Karena adanya boikot terhadap produk-produk Rusia termasuk bahan bakar fosil dan gas, Eropa Barat lagi menghadapi dilema, apakah larangan impor dari Rusia itu bisa dilakukan secara drastis atau ber-angsur-angsur ? Kedua-duanya ada segi positif dan negatif nya terhadap policy Boycott terhadap bahan bakar dari Rusia.

Untuk mengambil keuntungan dari situasi baru ini perusahaan-perusahaan minyak Amerika akan mengekspor lebih banyak bahan bakar fosil ke Eropa. Ini berarti bahwa emisi carbon akan meningkat lagi sehingga ada kemungkinan kenaikan temperatur bumi bisa melebihi target ambang batas kenaikan 1,5 derajad Celcius seperti yg disepakati diberbagai forum tentang perubahan iklim. Kenaikan yg lebih tinggi dari 1,5 derajat Celsius akan berdampak pada kesehatan manusia, penyediaan air buat kepentingan pertanian dan kehidupan manusia serta hama penyakit baru dilingkungan pertanian . Melihat perkembangan dalam bidang energi ini, energi baru terbarukan harus lebih ditingkatkan lagi.

Ketiga harga Pupuk Melonjak. Boikot terhadap produk-produk Rusia akan menyebabkan melonjaknya harga pupuk NPK yang tidak mungkin terjangkau oleh petani diberbagai negara termasuk Indonesia. Pada gilirannya ini akan berdampak pula pada produktifitas tanaman pangan seperti padi, jagung, shorgum dll diberbagai negara termasuk Indonesia. Implikasinya ialah bahwa policy pemerintah terhadap ketahanan pangan akan terancam. Kekurangan pupuk akan mengurangi produktifitas berbagai komoditas di sector perkebunan.

Keempat bagaimana policy pemerintah Indonesia menghadapi situasi baru ini ? Perkembangan baru ini memberikan dampak positif pada harga minyak sawit. Apakah B30 akan segera diterapkan apa ditunda? Kalau terus dilaksanakan Indonesia tidak akan mengambil keuntungan pada perkembangan baru ini. Pada lain sisi import solar tentunya tidak bisa dikurangi secara signifikan lagi.

Kalau ekspor CPO diprioritaskan pendapatan devisa akan naik sebagai akibat dari kenaikan yg melonjak dari harga CPO, pajak ekspor bisa ditingkatkan untuk membiayai PSR (dengan menggunakan varietas2 unggul benih sawit). Sebagian dana juga bisa disisihkan untuk keperluan R&D untuk membantu Pemerintah dalam mencari solusi untuk menghadapi situasi baru ini.

Dan kelima sebagai kesimpulan saya ingin menyarankan supaya pemerintah mengadakan pertemuan dengan para stakeholder termasuk GAPKI, GPPI, DMSI, APROBI dan Lembaga Penelitian.

 

Sumber: Soedjai Kartasasmita,2022

Informasi Lainnya


Keran Ekspor Nahan Baku Minyak Goreng Dibuka, Ini Alasan Presiden !

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk mencabut larangan ekspor bahan baku minyak goreng termasuk CPO mulai Senin (23/5/2022). Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Jokowi di Kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Kamis (19/5) sore. Presiden mengatakan walaupun ada daerah dengan harga realtif tinggi, tapi ia yakin harganya akan lebih terjangkau dalam beberapa pekan, Selain itu Meskipun ekspor dibuka, pemerintah akan tetap mengawasi dan memantau dengan ketat untuk memastikan pasokan tetap terpenuhi dengan harga terjangkau. Presiden Jokowi juga mengucapkan terima kasih kepada para petani sawit atas pengertian dan dukungan terhadap kebijakan pemerintah yang diambil untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas. “Di sisi lain, mengenai dugaan adanya pelanggaran dan penyelewengan dalam distribusi dan produksi minyak goreng, saya telah memerintahkan aparat hukum kita untuk terus melakukan penyelidikan dan memproses hukum para pelakunya. Saya tidak mau ada yang bermain-main yang dampaknya mempersulit rakyat, merugikan rakyat,” tegasnya.

Pemerintah Melarang Ekspor Semua Produk Turunan Kelapa Sawit ke Luar Negeri.

Minyak kedelai (soyoil) berjangka Amerika Serikat melonjak ke rekor tertinggi, Rabu, setelah Indonesia memperluas larangan ekspor bahan mentah untuk minyak goreng guna memerangi inflasi pangan. Langkah ini secara dramatis memperketat pasokan minyak nabati global yang membuat harga internasional melonjak ketika invasi Rusia ke Ukraina mengambil pasokan minyak bunga matahari Ukraina dari pasar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah melarang ekspor semua produk turunan kelapa sawit ke luar negeri. Baik itu CPO, RPO, RDB Palm Olein, Pome dan Use Coocking Oil. Larangan ini akan berlaku mulai 28 April 2022. Sebelumnya, larangan itu hanya ditetapkan untuk minyak sawit yang dimurnikan, diputihkan, dan dihilangkan baunya. Jagung berjangka juga reli, dengan kontrak yang paling aktif mencapai level tertinggi dalam hampir satu dekade karena prospek cuaca menunjukkan sedikit bantuan dari cuaca dingin dan basah. Harga soyoil berjangka Chicago Board of Trade untuk kontrak pengiriman Juli ditutup melonjak USD2,29 menjadi USD84,72 per pon, demikian laporan Reuters, di Chicago, Rabu (27/4) atau Kamis (28/4) pagi WIB. Kontrak tersebut mencapai puncak tertinggi sepanjang masa di 85,77 pada awal sesi. Sementara itu, kedelai berjangka CBOT untuk kontrak pengiriman Juli ditutup naik USD21 menjadi USD1.692,75 per bushel. Jagung berjangka CBOT Juli menguat USD10,75 menjadi USD812,25 per bushel, setelah kontrak teraktif itu menyentuh level tertinggi sejak Agustus 2012. Gandum berjangka sebagian besar lebih rendah, dengan patokan CBOT Juli turun USD3,75 menjadi USD1.091,25 per bushel.   Refrensi: reuters.com cnbcindonesia.com suara.com

Era Disrupsi, Industri Gula Indonesia Harus Segera Berbenah

Perubahan besar tengah terjadi, Pandemi dan Perubahan Iklim membuat banyak negara eksportir mengubah kebijakan ekspor pangannya, salah satu komoditas yang terdampak adalah gula. Indonesia sebagai negara agraris yang masih melakukan impor gula guna memenuhi kebutuhan dalam negeri harus segera melakukan langkah konkret. industri gula harus segera berbenah. Swasembada gula dengan menerapkan teknologi konvensional tentu sulit untuk bisa memenuhi target sesuai yang direncanakan. Budidaya tebu kini sudah harus menerapkan teknologi terkini berbasis data dilapangan, karena sangat mungkin disetiap tempat bisa berbeda perlakuannya. Para pelaku usaha di garis terdepan baik petani ataupun pekerja perlu dikenalkan dengan teknologi sehingga dalam penerapan teknologi dapat dilakukan secara komprehensif. Selain itu Pemerintah perlu berkolaborasi dengan masyarakat, misalnya dengan mengkampanyekan untuk hidup sehat dengan mengurangi konsumsi gula dan lain-lain. Sehingga target swasembada bisa jadi lebih rendah. Selain itu para pelaku usaha juga bisa berkontribusi dengan beradaptasi menawarkan makanan dan minuman yang lebih sehat. Menurut Ketua Umum BKS-PPS Bapak Soejai Kartasasmita, Jika Indonesia berhasil melakukan swasembada gula yang berasal dari tebu bukan tidak mungkin Indonesia juga dapat mengembangkan industri hilir dari produk tebu, seperti energi alternatif dari ethanol atau juga pemanfaatan limbah tebu menjadi bioplastik. Sehingga swasembada tidak hanya fokus pada produk gula kristal tetapi juga membuka peluang pada industrialisasi produk baru.

Tingkatkan Produktivitas Sawit Dimasa Depan Dengan Replanting

  Dalam beberapa tahun terakhir penggunaan minyak nabati terutama sawit semakin masif, tidak hanya untuk pangan tetapi juga oleokimia dan biofuel. harganya pun saat ini sedang baik sehingga banyak negara yang mulai membuka diri untuk melakukan budidaya kelapa sawit di negaranya. Seperti yang kita ketahui bersama tanaman kelapa sawit memiliki siklus yang secara ekonomis bisa sampai berumur 25 tahun, banyak perusahaan yang melakukan replanting ketika mencapai umur tersebut dan juga ada yang masih mempertahankannya karena dianggap masih menguntungkan sambil merencanakan replanting. Emang apasih untungnya replanting ? Perlu langkah konkret dalam menyikapi hal ini, salah satunya adalah melakukan replanting pada kebun sawit yang sudah mencapai waktunya untuk memperpanjang umur bisnis kelapa sawit. Apalagi karena momentum saat ini tepat karena pemerintah juga sedang melaksanakan peremajaan sawit rakyat dalam rangka menambah produktivitas kebun sawit milik rakyat dengan bahan tanam unggul & mendukung rakyat untuk mengembangkan usaha di bidang sawit. Selain itu dimasa pandemi yang belum usai, replanting bisa menjadi program pemulihan ekonomi nasional karena dianggap cara ini dapat menyerap tenaga kerja. Semoga dengan replanting tanaman yang sudah memasuki masanya dapat meningkatkan produktivitas, daya saing dan eksistensi sawit Indonesia dimasa depan. Bersama Mengukuhkan Perkebunan Berkelanjutan