Informasi

Berita dan Informasi BKS-PPS

Persimpangan Jalan Industri Perkebunan Tembakau Deli

  Di abad ke-19, tembakau asal Deli (Kota Medan) menjadi komoditas dagang paling berharga yang dikuasai Belanda. Tembakau Deli adalah tembakau dengan kualitas sangat bagus, karenanya tembakau Deli disebut sebagai komoditas ekspor utama yang harganya tinggi. Nilai jualnya yang tinggi membuat uang dari perdagangan tembakau saat itu digunakan untuk menghidupkan Kota Medan yang awalnya sepi. Sehingga sekitar tahun 1890-an, terjadi booming Industri Perkebunan Tembakau yang dikelola oleh pemodal asing. Digunakan sebagai pembungkus cerutu, daun tembakau asal Sumatra dinilai setara dengan tembakau Havana dari Cuba, rasanya disuka oleh banyak orang di Benua Eropa. Dulu ketika nama tembakau berjaya, orang-orang banyak yang datang ke Deli untuk mengadu nasib. Beberapa dari mereka bahkan berhasil menjadi pemilik kebun atau pedagang yang sukses di tanah Deli. Sehingga Kota Medan saat itu dikenal sebagai “het dollar land” (Tanah Uang). Namun saat ini, nasib tembakau Deli tengah berada diujung tanduk. Padahal harganya bisa sampai 40-50 euro/kg. Sayangnya masalah ketersediaan lahan dan biaya yang tinggi masih sulit diatasi sehingga Perusahaan Perkebunan Tembakau Deli selalu merugi. Selain itu, para pekerjanya pun mulai banyak yang meninggalkan perkebunan, kebanyakan mereka telah beralih profesi. Ketua Umum BKS-PPS Bapak Soedjai Kartasasmita bercerita dari tahun 2003 sampai 2010 selalu dimintai saran oleh pihak Indonesia maupun Jerman. Setiap tahun diundang ke Bremen untuk hadir dalam lelang Internasional, bahkan sampai bertemu dengan Agus Martowardoyo Menteri Keuangan dan Menteri BUMN Bapak Dahlan Iskan. Sayangnya produksi tembakau Deli tiap tahun makin menyusut padahal dilain sisi permintaan dari pabrik-pabrik cerutu di Eropa tetap tinggi. Beliau juga mengungkapkan bahwa Ia beberapa kali diminta tampil di televisi Jerman. Sampai ikut memberikan jaminan pada Bremer Landes Bank supaya ada kredit yang bisa diglontorkan untuk Perusahaan Perkebunan Tembakau Deli. Menurutnya bisnis cerutu diramalkan akan bertahan sampai 100 tahun lagi. Eropa sudah menutup pasokan Tembakau Deli, kecuali Jerman. Itupun hanya antara 40-50 ha perkebunan Tembakau Deli. Begitupun Bapak Soedjai terus memperjuangkan eksistensi Tembakau Deli, meskipun beliau bukan penghisap cerutu. Hal itu dilakukan karena cintanya pada kekayaan alam Indonesia. Juga karena ada pesan dari Almarhum Sumadi Wiradikarta (pakar tembakau Deli) sebelum beliau meninggal di RSPP mengatakan “Kang, perjuangkan terus ya tembakau Deli!” Pada tahun 2010 dalam RUPS di Bremen diputuskan untuk menghentikan lelang tanpa ada penjelasan tentang apa yang harus dilakukan dengan gedung balai lelang . Gedung sebesar gedung A Kemtan sekarang oleh pemerintah Jerman dijadikan gedung heritage.Lelang tembakau di Bremen itu urainya berkat perjuangan Prof. Ghautama, Prof Mochtar Kusumaatmadja dan Bapak Suyono Martowardojo . Sementara itu para pabrikan cerutu mencari alternatif seperti Mexico Sumatera dan Brazil Sumatera, sekarang tentu ditambah lagi dengan florida Sumatera. Florida Sumatra adalah varietas yang sangat tua yang secara historis tumbuh dibawah naungan dan digunakan untuk membuat daun pembungkus cerutu berkualitas tinggi. Tanaman ini cepat matang dan tumbuh setinggi empat hingga enam kaki. Selamat tiggal tembakau Deli dan selamat datang tembakau Florida Sumatera. “Berita  ini memprihatinkan, tembakau Deli asal Sumut hilang dari pasar lalu muncul tembakau Florida Sumatera yang juga dipakai sebagai daun pembungkus cerutu.” kata Soedjai Kartasasmita Tokoh Perkebunan Indonesia yang sudah berusia 94 tahun di salah satu tabloid pertanian. Demikianlah perjalanan panjang salah satu komoditas utama yang berjasa terhadap perekonomian dan perkembangan Khususnya Kota Medan dan Sekitarnya. Dimana tembakau Deli sudah sangat melekat dengan Identitas Sumatera Utara yang bahkan ada pada Logo Lembaga-lembaga seperti Klub Sepak Bola, Universitas dan Pemerintahan di Provinsi Sumatera Utara. Tembakau Deli telah menjadi bagian dari masyarakat Sumatera Utara.